Jumat, 24 Mei 2013

Makalah tentang tahu



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Limbah cair industri pangan mengandung bahan organik yang tinggi, bila dibuang ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu akan menimbulkan dampak negatif berupa penurunan kualitas badan air penerima. Kandungan bahan organik dalam limbah industri pangan memiliki bahan organik yang tinggi dan dapat bertindak sebagai sumber makanan untuk pertumbuhan mikroba. Dengan pasokan makanan yang berlimpah, mikroorganisme akan berkembang biak dengan cepat dan mereduksi oksigen terlarut yang terdapat dalam air.
Tahu merupakan salah satu jenis makanan sumber protein dengan bahan dasar kacang kedelai yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Sebagian besar produk tahu di Indonesia dihasilkan oleh industri skala kecil yang kebanyakan terdapat di Pulau Jawa. Industri tersebut berkembang pesat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Namun, di sisi lain industri ini menghasilakan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan. Industri tahu membutuhkan air untuk pemrosesannya, yaitu untuk prosees sortasi, peredaman, pengupasan kulit, pencucian, penggilingan, perebusan dan penyaringan.
Air buangan dari proses pembuatan tahu ini menghasilkan limbah cair yang menjadi sumber pencemaran bagi manusia dan lingkungan. Limbah tersebut, bila dibuang ke perairan tanpa pengolahan terlebih dahulu dapat mengakibatkan kematian makhluk hidup dalam air termasuk mikroorganisme (jasad renik) yang berperan penting dalam mengatur keseimbangan biologis air, oleh karena itu penanganan limbah cair secara dini mutlak perlu dilakukan.











B.  Pengertian Pencemaran
Pencemaran lingkungan kadang-kadaang tampak jelas pada kita seperti timbunan sampah di pasar-pasar, pendangkalan sungai yang penuh kotoran, ataupun sesaknya napas karena asap knalpot ataupun cerobong asap pabrik. Tetapi ada juga yang kurang nampak misalnya terlepasnya gas hidrogen sulfida dari sumber minyak tua. Begitu pula musik yang memekakkan telinga yang keluar dari peralatan elektronik modern. Ion fosfat dalam limbah pabrik merupakan pencemar, tetapi merupakan rabuk yang baik bagi pepohonan.
Menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/I/1998 yang dimaksud dengan pencemaran adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air, udara/tanah dan atau berubahnya tatanannya (komposisi) oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air, udara/tanah menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

C.     Pencemaran Limbah Industri Pangan ( Tahu )
Kandungan bahan organik dalam limbah industri pangan memiliki bahan organik yang tinggi dan dapat bertindak sebagai sumber makanan untuk pertumbuhan mikroba. Dengan pasokan makanan yang berlimpah, mikroorganisme akan berkembang biak dengan cepat dan mereduksi oksigen terlarut yang terdapat dalam air. Secara normal, air mengandung kira-kira 8 ppm oksigen terlarut. Standar minimum oksigen terlarut untuk kehidupan ikan adalah 5 ppm dan dibawah standar ini akan menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya.
Tahu merupakan salah satu jenis makanan sumber protein dengan bahan dasar kacang kedelai yang sangat akrab dengan masyarakat indonesia. Air buangan industri tahu rata-rata mengandung BOD, COD, TSS dan minyak/lemak berturut-turut sebesar 4583, 7050, 4743 dan 26 mg/l. Bila dibandingkan dengan baku mutu limbah cair industri produk makanan dari kedelai menurut KepMenLH No. Kep-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Inddustri, kadar maksimum diperbolehkan untuk BOD5, COD dan TTS berturut-turu adalah 50, 100 dan 200 mg/l, sehingga jelas bahwa libmah cair industri ini telah melampaui baku mutu yang dipersyaratkan.
Untuk menurunkan kandungan bahan organik dalam air buangan industri tahu tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode fisika-kimia, biologis aerob dan pemanfaatan gulma air.

D.     Karakteristik Limbah Cair
Parameter yag digunakan untuk menunjukkan karakter air buangan industri pangan adalah:
1.      Parameter fisika, seperti kekeruhan, suhu, zat padat, bau,dan lain-lain.
2.      Parameter Kimia
Parameter kimia dibedakan atas :
a.       Kimia Organik : kandungan organik (BOD, COD, TOC), oksigen terlarut (DO), minyak/lemak, Nitrogen-Total (N-Total), dan lain-lain.
b.      Kimia anorganik: pH, Ca, Pb, Fe, Cu, Na, sulfur, H2S , dan lain-lain.

Beberapa karakteristik limbah cair industri tahu yang penting anatara lain:
1.      Padatan tersuspensi, yaitu bahan-bahan yang melayang dan tidak larut dalam air. Padatan tersuspensi sangat berhubungan erat dengan tingkat kekeruhan air, semakin tinggi kandungan bahan tersuspensi tersebut, maka air akan semakin keruh.
2.      Biochemical Oxygen Demand (BOD), merupakan parameter untuk menilai jumlah zat organik yang terlarut serta menunjukkan jumlah oksigen yang diperlukan oleh aktivitas mikroba dalam menguraikan zat organik secara biologis di dalam limbah cair. Limbah cair industri tahu mengandung bahan-bahan organik terlarut yang tinggi.
3.      Chemical Oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimiawi merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh oksidator (misal kalium dikhormat) untuk mengoksidasi seluruh material baik organik maupun anorganik yang terdapat dalam air. Jika kandungan senawa organik dan anorganik cukup besar, maka oksigen terlarut di dalam air dapat mencapai nol sehingga tumbuhan, air, ikan-ikan dan hewan air lainnya yang membutuhkan oksigen tidak memungkinkan hidup.
4.      Nitrogen-Total (N-Total) yaitu fraksi bahan-bahan organaik campuran senyawa kompleks antara lain asam-asam amino, dan protein (polimer asam amino). Dalam analisis limbah cair, N-Total terdiri dari campuran N-organik, N-amonia, nitrat dan nitrit. Nitrogen organik dan nitrogen amonia dapat ditentukan secara analitik menggunakan metode Kjeldahl, sehingga lebih lanjut konsentrasi total keduanya dapat dinyatakan sebagai Total Kjeldahl Nitrogen (TKN). Senyawan-senyawa N-Total  adalah senyawa-senyawa yang mudah terkonversi menjadi amonium (NH4+) melalui aksi mikroorganisme dalam lingkungan air atau tanah. Menurut Kuswardani (1985) limbah cair industri tahu mengandung N-Total sebesar 434,78 mg/l.
5.      Derajat Keasaman (pH). Air limbah industri tahu sifatnya cenderung asam, pada keadaan asam ini akan terlepas zat-zat yang mudah menguap. Hal ini mengakibatkan limbah cair industri tahu mengeluarkan bau busuk.





























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kegiatan dan Dampak Sumber Limbah Industri Pangan ( Tahu )
Limbah tahu mengandung protein tinggi sehingga konsekuensinya menimbulkan gas buang berupa Amoniak/ Nitrogen dan Sulfur yang tidak sedap dan mengganggu kesehatan. Adapun informasi-informasi pencemaran linkungan tersebut diantaranya adalah :
1.             PENCEMARAN AIR
Pencemaran air adalah pencemaran yang disebabkan oleh masuknya partikel-partikel ke dalam air sehingga mempengaruhi pH normal pada air.
a.       Penyebab-penyebab pencemaran air di sekitar pabrik tahu tersebut antara lain:
Penyebab Utama :
·         Limbah dari bekas air pencucian bahan baku pembuatan tahu
·         Limbah cair dari proses pengolahan bahan baku ( kedelai, dll)
·         Limbah padat berupa ampas dari pengolahn tahu.
Penyebab lain :
·         Limbah dari rumah tangga (bekas cucian piring, cucian baju, dll) di sekitar pabrik
·         Air bekas untuk memandikan ternak yang berada di sekitar lokasi observasi.
·         Banyak warga yang membuang sampah rumah tangga ke sungai.

b.      Dampak yang ditimbulkan oleh adanya pencemaran air di sekitar pabrik tersebut antara lain :
·         Keadaan air sungai menjadi kotor dan keruh.
·         Menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga mengganggu pernapasan warga di sekitarnya.
·         Banyak biota sungai yang mati
·         Air di sungai tempat pembuangan limbah menjadi tergenang akibat sampah.
·         Warga yang mempergunakan air, banyak yang terkena penyakit gatal-gatal dan diare.
·         Merusak pemandangan / mengurangi nilai keindahan.
·         Mencemari sumur warga.



    http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQbRvf09PHkYg8GUe6sjOeAKsrOiPwkcZTKixFmXqj3SyhChDbEWQ 
                                    Gb. air limbah industri tahu


2.             PENCEMARAN UDARA
Selain terjadi pencemaran air,  juga terjadi pencemaran udara  :
a.       Penyebab-penyebab pencemaran udara dari pabrik tahu tersebut antara lain :
·         Asap dari pengolahan tahu.
·         Asap dari sekam padi yang sering digunakan sebagai bahan bakar.
·         Asap dari kayu bakar.
·         Aroma dari bahan baku tahu yang mengandung amonia.

b. Akibat-akibat yang muncul dari pencemaran udara, antara lain :
·         Terganggunya pernapasan.
·         Dinding-dinding pabrik berubah warna menjadi hitam akibat asap kayu bakar.
·         Menyebabkan sesak napas, mual, dan lain-lain.



3.             PENCEMARAN TANAH
Pembuangan limbah industri tahu di tanah dapat menimbulkan sebagai berikut.
a.       Penyebab-penyebab dari terjadinya pencemaran tanah :
·         Banyak warga yang membuang sampah rumah tangga mereka di tempat tersebut.
·         Tempat tesebut juga dijadikan tempat pembuangan kotoran hewan.
·         Limbah padat tahu banyak yang dibuang di tempat tersebut dan dibiarkan begitu saja.
·         Banyak warga yang tidak peduli dengan kebersihan di lingkuangn tersebut.

1.      Akibat-akibat dari pencemaran tanah, antara lain :
·         Merusak pemandangan dan mengurangi keindahan daerah tersebut.
·         Timbul bau yang tidak sedap dari sampah tersebut.
·         Sedikit flora yang tumbuh.

B.Pengolahan Limbah Cair Industri Pangan ( Tahu )
Metode pengolahan yang dikembangkan tersebut dapat digolongkan atas 3 jenis metode pengolahan, yaitu secara fisika, kimia maupun biologis.
1.      Cara Fisika
Merupakan metode pemisahan sebagian dari beban pencemaran khususnya padatan tersuspensi atau koloid dari limbah cair dengan memanfaatkan gaya-gaya fisika. Dalam pengolahan limbah cair industri tahu secara fisika, proses yang dapat digunakan antara lain adalah filtrasi dan pengendapan (sedimentasi). Filtrasi (penyaringan) menggunakan media penyaring terutama untuk menjernihkan dan memisahkan partikel-partikel kasar dan padatan tersuspensi dari limbah cair. Dalam sedimentasi, flok-flok padatan dipisahkan dari aliran dengan memanfaatkan gaya graviatasi.

2.      Cara Kimia
Merupakan metode penghilangan atau konsevari senyawa-senyawa polutan dalam limbah cair dengan penambahan bahan-bahan kimia atau reaksi kimia lainnya. Beberapa proses yang dapat diterapkan dalam pengolahan limbah cair industri tahu diantaranya termasuk koagulasi-flokulasi dan netralisasi.
Proses netralisasi biasanya diterapkan dengan cara penambahan asam atau basa guna menetralisir ion-ion terlarut dalam limbah cair sehingga memudahkan proses pengolahan selanjutnya.
Dalam proses koagulasi-flokulasi, partikel-partikel koloid hidrofobik cenderung menyerap ion-ion bermuatan negatif dalam limbah cair melalui sifat adsorpsi koloid tersebut, sehingga partikel tersebut menjadi bermuatan negatif. Koloid bermuatan negatif ini menarik ion-ion bermuatan berlawanan dan membentuk lapisan kokoh (lapisan stern) mengelilingi partikel inti. Selanjutnya lapisan kokoh stern yang bermuatan positif menarik ion-ion negatif lainnya dari dalam larutan membentuk lapisan kedua (lapisan difus). Kedua lapisan tersebut bersama-sama menyelimuti partikel-partikel koloid dan membuatnya menjadi stabil. Partikel-partikel koloid dalam keadaan stabil cenderung tidak mau bergabung satu sama lainnya membentuk flok-flok berukuran lebih besar, sehingga tidak dapat dihilangkan degan proses sedimentasi ataupun filtrasi.
Kogulan yang bisa digunakan antara lain polielektrolit, alumunium, kapur dan garam-garam besi. Masalah dalam pengolahan limbah secara kimiawi adalah banyaknya endapan lumpur yang dihasilkan, sehingga menimbulkan penanganan yang lebih lanjut.
Selain kedua metode tersebut diatas, metode gabunan fisika-kimia mencakup flokulasi yang dikombinasikan dengan sedimentasi juga telah dicoba degunakan dalam skala laboratorium. Namun, penerapan metode fisika, kimia atau gabungan keduanya dalam skala riil hasilnya kurang memuaskan khususnya di Indonesia. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain: metode pengolahan fisika-kimia terlalu kompleks, kebutuhan bahan kimia cukup tinggi, serta lumpur berupa endapan sebagai hasil dari sedimentasi menjadi masalah penanganan lebih lanjut. 
3.      Cara Biologi
Cara biologi ini dapat menurunkan kadar zat organik terlarut dengan memanfaatkan mikroorganisme atau penumbuh air. Pada dasarnya cara biologi adalah pemusatan molekul kompleks menjadi molekul sederhana. Proses ini sangan peka terhadap faktor suhu, pH, oksigen terlarut (DO) dan zat-zat inhibitor terutama zat-zat beracun. Mikroorganisme yang digunakan untuk pengolahan limbah adalah bakteri, algae atau protozoa. Sedangakan tumbuhan air yang dapat digunakan termasuk gulma air (aquatic weeds).
Metode biologis lainnya yang juga telah dicoba diterapkan dalam penanganan limbah cair industri tahu yaitu menggunakan proses lumpur aktif (activated sludge) untuk mendegradasi kandungan organik dalam bahan limbah cair tahu dan susu kedelai. Hasil yang dicapai dilaporkan secara teknis cukup memuaskan, dimana diperoleh penurunan BOD terlarut, nitrogen dan fosfor berturut-turut sebersar 95%, 67% dan 57%. Akan tetapi melihat tingkat pengetahuan para pengrajin tahu khususnya di Indonesia yang relatif minim dalam hal penanganan limbah dan faktor-faktor teknis lainnya, seperti biaya investasi dan operasi cukup tinggi, luas lahan yang diperlukan cukup besar, serta pengendalian proses yang relatif kompleks. Sehingga, penerapan metode ini khususnya di Indonesia kurang berdaya guna. Hal ini dapat dilihat bahwa banyak diantara pengrajin tahu membuang limbahnya ke perairan tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu.

C.      Pemanfaatan Limbah Industri Pangan
Industri tahu yang menghasilkan limbah merupakan salah satu sumber pencemaran udara berupa bau busuk dan pencemaran sungai yang ada di sekitar pabrik. Limbah yang dihasilkan pabrik tahu berupa kulit kedelai, ampas dan air tahu masih dapat dimanfaatkan menjadi produk-produk yang bermanfaat.
Pada proses pengolahan tahu akan dihasilkan limbah berupa ampas tahu yang apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan bau tidak sedap. Ampas tahu masih mengandung zat gizi yang tinggi yaitu protein (26.6%), lemak (18.3%), karbohidrat (41.3%), fosfor (0.29%), kalsium (0.19%), besi (0.04%), dan air (0.09%). Oleh karena itu masih memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar atau campuran pada proses pengolahan pada produk tertentu.
Pada tahun 1990 ditemukan cara pemanfaatan limbah cair tahu menjadi nata de soya yang jika dilakukan bersama-sama  oleh pengusaha tahu dapat mengurangi pencemaran sungai akibat pembuangan limbah cair tahu di sekitar pabrik. Ampas tahu juga dapat diolah menjadi produk makanan, salah satu alternatifnya adalah dibuat abon ampas tahu.
Abon merupakan salah satu bentuk diversifikasi makanan berbahan baku ampas tahu. Abon adalah produk hasil olahan denan menggunakan teknik pengeringan untuk menghilangkan air yang terdapat dalam bahan sehingga produk menjadi renyah. Pembuatan abon adalah salah satu cara dalam berbagai macam teknik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomi ampas tahu. Produk yang dihasilkan ini diharapkan memiliki kandunan gizi yang tinggi dengan umur simpanan yang lama, karena berbentuk kering. Dengan cara pengolahan yang baik, abon dapat disimpan berbulan-bulan tanpa mengalami banyak penurunan mutu.


BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/I/1998 yang dimaksud dengan pencemaran adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air, udara/tanah dan atau berubahnya tatanannya (komposisi) oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air, udara/tanah menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Adapun informasi-informasi pencemaran linkungan tersebut diantaranya adalah :
1.             PENCEMARAN AIR
Pencemaran air adalah pencemaran yang disebabkan oleh masuknya partikel-partikel ke dalam air sehingga mempengaruhi pH normal pada air.
c.       Penyebab-penyebab pencemaran air di sekitar pabrik tahu tersebut antara lain:
Penyebab Utama :
·         Limbah dari bekas air pencucian bahan baku pembuatan tahu
·         Limbah cair dari proses pengolahan bahan baku ( kedelai, dll)
·         Limbah padat berupa ampas dari pengolahn tahu.
Penyebab lain :
·         Limbah dari rumah tangga (bekas cucian piring, cucian baju, dll) di sekitar pabrik
·         Air bekas untuk memandikan ternak yang berada di sekitar lokasi observasi.
·         Banyak warga yang membuang sampah rumah tangga ke sungai.

d.      Dampak yang ditimbulkan oleh adanya pencemaran air di sekitar pabrik tersebut antara lain :
·         Keadaan air sungai menjadi kotor dan keruh.
·         Menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga mengganggu pernapasan warga di sekitarnya.
·         Banyak biota sungai yang mati
·         Air di sungai tempat pembuangan limbah menjadi tergenang akibat sampah.
·         Warga yang mempergunakan air, banyak yang terkena penyakit gatal-gatal dan diare.
·         Merusak pemandangan / mengurangi nilai keindahan.
·         Mencemari sumur warga. 
2.             PENCEMARAN UDARA
Selain terjadi pencemaran air,  juga terjadi pencemaran udara  :
a.       Penyebab-penyebab pencemaran udara dari pabrik tahu tersebut antara lain :
·         Asap dari pengolahan tahu.
·         Asap dari sekam padi yang sering digunakan sebagai bahan bakar.
·         Asap dari kayu bakar.
·         Aroma dari bahan baku tahu yang mengandung amonia.

b. Akibat-akibat yang muncul dari pencemaran udara, antara lain :
·         Terganggunya pernapasan.
·         Dinding-dinding pabrik berubah warna menjadi hitam akibat asap kayu bakar.
·         Menyebabkan sesak napas, mual, dan lain-lain.
3.             PENCEMARAN TANAH
Pembuangan limbah industri tahu di tanah dapat menimbulkan sebagai berikut.
a.       Penyebab-penyebab dari terjadinya pencemaran tanah :
·         Banyak warga yang membuang sampah rumah tangga mereka di tempat tersebut.
·         Tempat tesebut juga dijadikan tempat pembuangan kotoran hewan.
·         Limbah padat tahu banyak yang dibuang di tempat tersebut dan dibiarkan begitu saja.
·         Banyak warga yang tidak peduli dengan kebersihan di lingkuangn tersebut.

2.      Akibat-akibat dari pencemaran tanah, antara lain :
·         Merusak pemandangan dan mengurangi keindahan daerah tersebut.
·         Timbul bau yang tidak sedap dari sampah tersebut.
·         Sedikit flora yang tumbuh.



Berbagai upaya untuk mengolah limbah cair industri tahu dicoba dan dikembangkan. Secara umum, metode pengolahan yang dikembangkan tersebut dapat digolongkan atas 3 jenis metode pengolahan, yaitu secara fisika, kimia maupun biologis. Namun, penerapan metode fisika, kimia atau gabunan keduanya dalam skala riil hasilnya kurang memuaskan khususnya di Indonesia. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain: metode pengolahan fisika-kimia terlalu kompleks, kebutuhan bahan kimia cukup tinggi, serta lumpur berupa endapan sebagai hasil dari sedimentasi menjadi masalah penanganan lebih lanjut. 
Limbah yang dihasilkan pabrik tahu berupa kulit kedelai, ampas dan air tahu masih dapat dimanfaatkan menjadi produk-produk yang bermanfaat. Pemanfaatan limbah cair tahu menjadi nata de soya dan abon merupakan salah satu bentuk diversifikasi makanan berbahan baku ampas tahu.

























LAMPIRAN


http://3.bp.blogspot.com/-8IqZAqha4Ak/T_FcACAhKGI/AAAAAAAAAC0/RYEPYULBRBY/s1600/Pabrik-tahu-1.jpg
1.1 Gb. Pembuatan tahu



2464101_87478_091012154756_g
1.2 Gb. Tahu

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQbRvf09PHkYg8GUe6sjOeAKsrOiPwkcZTKixFmXqj3SyhChDbEWQ
1.3 Gb. Limbah tahu






















DAFTAR PUSTAKA

www.Penanganan Limbah Industri Pangan.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar